January 27, 2022

Medan Cyber

Media Cyber Teraktual di Jagad Maya

Universitas Prima Indonesia Diserbu Pendemo Terkait Pemecatan Sepihak

Medancyber.com – Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) yang tergabung dalam front peduli korban PHK Medan menggelar aksi di depan Universitas Prima Indonesia (Unpri) terkait adanya pemberhentian secara sepihak seorang karyawannya oleh yayasan Unpri. Aksi yang diikuti puluhan buruh dilakukan dengan memblokade pintu masuk Unpri pada Jumat (14/1/2022).

Dalam pernyataannya mereka mendesak agar Unpri memenuhi hak hak Jhonfirt Tua Sihombing yang belum dibayarkan yang sudah diberhentikan secara sepihak oleh yayasan Unpri.

“Kami meminta agar pihak Unpri membuka jalur mediasi membicarakan hak hak Jhonfirt yang tidak diberikan,” ujar kordinator aksi Warisman Laia.

Menanggapi aksi tersebut Devi Marlin humas Unpri yang mendatangi para pendemo menyatakan jika tuntutan yang mereka sampaikan salah alamat.

“Bapak dan ibu kalian salah alamat,” kata Devi.

Tidak hanya sekali, Devi menyatakan hal itu berulang ulang saat diberi kesempatan untuk berbicara dengan massa aksi.

“Saya datang kesini membantah jika Jhonfirt bukan karyawan Unpri, makanya saya datang. Kalian salah alamat,” kata Devi.

Pernyataan itu pun membuat suasana tegang. Para aksi massa menunjuk nunjuk Devi sambil berteriak. Mereka tidak setuju pernyataan Devi yang seolah buang badan terhadap persoalan itu.

“Ibu punya mata, punya mata bisa membaca, coba liat masak salah alamat terus. Ini atas nama Unpri tidak BPJS nya. Jangan bohong aja kau. Berdosa kau nanti, jangan buat dosa bu,” kata peserta aksi sambil berteriak.

“Padahal waktu ketemu Dinsnaker ibu ada tandatangan sebagai humas Royal Prima sekarang ibu bilang salah alamat, ibu jangan buang badan,” kata peserta aksi.

Karena mulai saling bersitegang polisi pun memediasi kedua belah pihak dengan mengirim perwakilan buruh untuk bertemu pihak Unpri.

Sementara itu, Jhonfirt yang ditemui disana mengatakan jika dia perna bekerja sebagai satuan keamanan di klinik milik Royal Prima.

Jhon mengatakan dia bekerja sejak 2016 lalu. Namun pada Juli 2021 kemarin dia diberhentikan oleh yayasan Royal Prima.

“Jadi katanya rumah kosong didekat klinik yang aku jaga ada kemalingan. Jadi aku diberhentikan,” kata Jhon.

Selain diberhentikan Jhon mengaku tidak menerima pesangon selama dia bekerja. Jhon yang juga terdaftar sebagai mahasiwa Upri bahkan menerima sejumlah intimidasi dengan ancaman akan di drop out jika terus melakukan aksi.

Padahal kata Jhon, dia sudah menempuh jalur mediasi agar pihak Unpri dan Dinas Ketenagakerjaan namun menemui jalan buntuh. (Rsi/Mc)