25.6 C
Medan
Monday, 20 May 2024
spot_imgspot_imgspot_img

H. Zainuddin Purba SH: PENGHUNI RUMAH TAK BERPAGAR

Oleh: Tikwan Raya Siregar

Medancyber.com – Dia nyaris tidak pernah mencicipi kasih sayang dari seorang Ayah. Adapun mengenai lelaki yang meninggal dunia dalam kelumpuhan di usianya yang relatif pendek itu, Zainuddin Purba hanya mengingat dua hal. Pertama, ketika Ayahnya memakai kateter untuk buang air kecil. Kedua, ketika ia melihat Ayahnya ketakutan sekali melihat biawak yang berkeliaran di sekitar rumah.

“Aku juga sebenarnya takut pada hewan itu. Usiaku masih kanak-kanak sekali sehingga kenanganku pun masih samar-samar tentang itu. Tapi aku ingat betul bahwa aku telah memilih sikap menghadapi dan mengusir biawak itu ketimbang lari, hanya demi membuat Ayahku merasa nyaman dan memiliki perlindungan,” tutur mantan anggota DPRD Sumut dari Partai Golkar pemilihan 2019 itu.

Zainuddin Purba dibesarkan dalam kondisi keluarga yang serba susah secara ekonomi. Karena dinamika politik, Ayahnya telah memilih pindah ke sebuah desa yang belum ada akses jalan besar dan jembatannya, juga belum ada fasilitas penerangan listrik, nun jauh di pedalaman Binanga, Padang Lawas Utara. Di sanalah Ayahnya menikah dengan seorang perempuan lokal bermarga Nasution. Marganya sendiri ia warisi dari Ayahnya yang seorang Karo.

Sepeninggal Ayahnya, lelaki yang akrab dipanggil dengan “Pak Uda” (paman kecil) ini menjalani proses kehidupan yang makin serba kekurangan. Di usianya yang remaja, ia harus menjadi tenaga upahan tidak tetap untuk berbagai pekerjaan kasar yang dapat menghasilkan uang.

“Satu hal yang kubanggakan dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar itu adalah, aku selalu menyerahkan hasilnya pada Ibu. Aku selalu gembira kalau memberikannya uang, dan menyaksikan wajahnya yang berbinar senang. Aku tahu betul, Ibu sudah kelelahan mengasuh kami sendirian. Semua orang pastilah mengatakan Ibunya sebagai wanita terbaik. Aku pun demikian, karena telah menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana Ibu berjuang sendirian dan menyayangi kami,” tutur Bapak dari tiga putra ini.

Untuk melanjutkan sekolah, Pak Uda menumpang di rumah salah seorang abangnya. Ibunya membiayai sekolahnya sekadar kemampuannya saja.

“Kadang, ketika sekolah menyelenggarakan acara jalan-jalan, aku hanya bisa berdiri di depan kelas, sendirian menyaksikan keberangkatan mereka. Tidak tahu apakah harus melambaikan tangan untuk melepas rombongan itu, ataukah berusaha menghibur diriku sendiri yang tidak boleh ikut karena tak mampu membayar biaya yang dikenakan. Padahal aku menginginkan sekali ikut dalam rombongan itu seperti teman-teman lain…” tutur lelaki berpostur seimbang dan berperawakan cukup tinggi untuk ukuran Indonesia ini.

Menuturkan kisah itu, sosok yang disegani di tengah pergaulan lapangan ini tidak mampu menyembunyikan sisa kekanak-kenakan yang masih bersemayam dalam dirinya. Matanya berkaca-kaca, kata-katanya menjadi lebih pelan, dan suaranya menjadi rendah. Barangkali hanya lingkaran terdekatnyalah yang tahu persis bahwa mantan Ketua Pemuda Pancasila Binjai yang dua kali menjabat Ketua DPRD Binjai ini tetap saja menjadi bayi kolokan kalau sudah berada di hadapan Ibunya. Di depan wanita tua yang dicintainya itu ia bahkan tidak berani duduk di atas kursi, dan selalu memilih di lantai untuk merendahkan diri sambil memijati kaki Ibunya.

Setelah menamatkan SMA, Zainuddin pernah mengadu nasib dengan merantau ke daerah Aceh. Tapi dia tidak menemukan keberhasilan di sana. Lalu abangnya mencoba memasukkannya menjadi tenaga honor sopir di Bank Sumut. Tapi karena upahnya tidak pernah dibayar penuh hingga empat bulan berlalu, ia memilih meninggalkan pekerjaan itu.

Baca Juga:   Pimpinan Dewan Ajak Masyarakat Tetap Ikuti Prokes

“Padahal aku sebenarnya menyukai pekerjaan menyetir. Aku permah bercita-cita menjadi sopir bus antar lintas propinsi, karena waktu kecil aku kagum melihat sopir Batang Pane dan Sampagul yang selalu diperlakukan secara istimewa di manapun mereka berhenti untuk waktu makan. Aku melihat mereka disediakan meja makan khusus dan diperlakukan dengan hormat,” kata anak paling bungsu di antara saudara-saudaranya ini sambil mengenang cita-citanya itu dengan perasaan lucu.

Tapi kemudian kader Golkar yang memulai karir poliitik dari organisasi terbawah ini mengaku akhirnya dapat bersyukur kalau mengenang upahnya yang tidak dibayar penuh di bank daerah tersebut, sebab hal itu telah membuatnya dipisahkan dari pekerjaan yang bisa saja membenamkan hidupnya ke dalam karir yang terbatas untuk mengembangkan potensi terdalam pada dirinya.

Setelah itu, Zainuddin mulai memasuki pergaulan lapangan secara lepas di kalangan kepemudaan. Ia terlibat berbagai kenakalan pemuda, terutama dalam perkelahian-perkelahian. Salah satu sifat menonjol yang dikenal teman-teman dari dirinya adalah keberanian, prinsip yang kuat, dan fairness. Bila ia memutuskan sesuatu yang dianggapnya benar, maka tidak pernah ada kata mundur darinya. Sikap “sekali layar terkembang, sulit kita berpantang” ini akhirnya memandu langkahnya pada organisasi Pemuda Pancasila.

Sepak terjangnya secara sayup-sayup sampai ke telinga Ali Umri, tokoh pemuda berpengaruh yang kelak diketahui berhasil meraih kursi Walikota Binjai. Kepercayaan pertama yang diberikan Ali Umri padanya adalah membenahi kepengurusan sebuah ranting PP di Binjai. Dari sinilah pengalaman keorganisasiannya mulai diasah. Membuktikan potensi dirinya, Zainuddin berhasil mengaktifkan organisasi, memperbaiki kantornya yang sebelumnya bau pesing menjadi kantor yang layak dan membuat keberadaan mereka dipandang. Dari sini, Pak Uda kemudian menapaki karirnya ke Partai Golkar hingga menduduki beberapa posisi penting di dalamnya.

Bukti nyata dari hasil kekaryaan sosialnya di lapangan adalah ketika Zainuddin terpilih pertamakali menjadi anggota DPRD Binjai dalam sistem pileg demokratis. Jumlah suara pemilihnya yang signifikan membawanya dua periode berturut-turut menduduki jabatan Ketua DPRD Binjai sebelum akhrinya lolos sebagai salah satu anggota DPRD Sumatera Utara hingga periode terakhir.

Apa sebenarnya faktor kunci yang membuatnya bisa memiliki jumlah konstituen yang besar di tengah masyarakat Binjai? Menurut Pak Uda, itu tidak lain karena faktor pengalaman pahit hidupnya sendiri di masa lalu. Kemiskinan telah membuatnya sensitif kepada sesama, dan kesusahan mengajarkanya untuk bertindak spontan dan lebih peka pada kesusahan orang lain.

“Rumahku di Tanah Seribu sengaja dibuat tidak berpagar, Bang. Aku tidak ingin orang-orang merasa sungkan untuk berkunjung, terutama pada warga kelas bawah yang kesusahan. Aku punya indera kemampuan untuk merasakan siapa yang susah dan siapa yang bermaksud tidak baik. Ini hanya bisa dijelaskan oleh orang yang mengalaminya sendiri. Ini tidak dapat dilakukan dengan teori,” paparnya.

Baca Juga:   Rocky Gerung Minta Diundur Pemeriksaan Kasus Dugaan Hina Jokowi

Selama menjadi wakil rakyat, Zainuddin berkali-kali menggunakan jabatannya untuk mengeluarkan orang yang tertahan di rumah sakit karena tidak bisa membayar tagihan layanan perobatan. Dia bertindak langsung, mendatangi mereka, menanyakan kondisi mereka, memberikan uang pegangan, sampai mengantarkannya langsung ke rumah mereka.

Dia juga telah mengambil inisiatif meminta jatah kursi pada beberapa sekolah untuk menampung anak-anak yang tidak mampu, serta membebaskan mereka dari biaya-biaya pendidikan yang tidak dapat mereka tanggung.

“Entah kenapa, saya melakukan ini dengan gembira. Setiap kali bertemu dengan orang-orang seperti itu, saya teringat masa lalu saya. Lihatlah bagaimana wajah mereka ketika mengungkapkan terimakasih. Aduh, itu tidak bisa dinilai dengan apapun. Seolah-olah saya sedang membebaskan kesempitan masa lalu saya sendiri. Dada rasanya menjadi lapang, dan biasanya itu akan ditandai dengan air mata yang tidak dapat saya tahan. Bagi saya ini menjadi semacam hiburan yang berharga,” katanya.

Rupanya tindak-tanduk Pak Uda ini beredar dengan sendirinya dari mulut ke mulut. Dari tetangga, meluas ke kerabat jauh, demikian seterusnya. Secara tidak langsung, dia telah membangun basis konstituen politik yang solid dan didasarkan pada rasa kepedulian. Inilah faktor kunci yang dapat menjelaskan mengapa karir pokitiknya berjalan secara meyakinkan.

“Bagaimanapun, saya sangat percaya, bahwa politik yang kuat harus tetap didasarkan pada ikatan sosial. Uang mungkin bisa mempengaruhi pilihan seseorang, tapi solidaritas tidak dapat dibeli. Sebab di kotak pemilihan, setiap orang pada akhirnya berdaulat untuk dirinya sendiri. Di sinilah pembuktian naluriah setiap pemilih itu diuji. Dan masyarakat kita adalah masyarakat yang mengenal budi. Saya meyakini hal ini berdasarkan pengalaman yang saya buktikan sendiri sepanjang karir politik saya,” ujar lelaki berusia 52 tahun ini.

Mengenang apa yang telah membawanya kepada kedudukan yang terpandang sejauh ini, seperti menerima sambutan di acara-acara resmi sebagai pejabat yang memakai plat kendaraan nomor dua, Zainuddin akhirnya mematri tekad dalam hatinya untuk mengembalikan semua kehormatan itu kembali kepada masyarakat yang telah mendukung dan mempercayainya mewakili aspirasi mereka. Untuk itu ia selalu melafalkan doa yang unik. “Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikan hati yang ingat seperti ini, tuntunlah aku untuk terus memiliki perasaan seperti ini. Jangan biarkan aku lalai…”.

Pada Pemilu tahun 2024 ini, Zainuddin sengaja tidak ikut lagi dalam ajang pemilihan legislatif. Dia punya agenda yang lebih kuat untuk bertarung menuju Binjai Satu. Ada beberapa program yang ingin dia wujudkan di kota rambutan itu, yang dalam pandangannya hanya dapat direalisasikan melalui wewenang seorang walikota. Dengan dukungan berbagai sahabatnya, nama Zainuddin Purba pun masuk dalam bursa bakal calon walikota yang diperhitungkan.

“Ini bagi saya adalah langkah yang harus ditempuh untuk menyelesaikan beberapa agenda penting, terutama menyangkut agenda ekonomi untuk mengatasi kemiskinan absolut, kesehatan, dan pendidikan. Saya punya peta jalan untuk memaksimalkan lahan-lahan eks PTPN II menjadi kawasan integrasi peternakan dan pertanian terpadu sehingga dapat menampung warga miskin yang tidak memiliki sumberdaya sama sekali. Juga memaksimalkan anggaran daerah yang terbatas untuk layanan pendidikan dan kesehatan tepat sasaran. Jangan sampai kita menemukan lagi tragedi kesusahan keluarga yang pada akhirnya menguras air mata,” ungkapnya.

Baca Juga:   Eks Polisi Minta Kapoldasu Bersihkan Bid Propam dari Oknum Nakal

Untuk menata wajah Binjai sebagai kota transit yang menjadi laluan ke berbagai wilayah lain, Zainuddin melihat bahwa tantangan terbesar saat ini tetaplah narkoba, khususnya sabu-sabu. Semua orang memang telah melihat langsung permusuhannya yang keras dengan para bandar dan gangster sabu-sabu di kota itu. Untuk itu, ia rela bertaruh risiko keselamatan diri, menghadapi ancaman, bujukan, tuduhan, dan demonstrasi pesanan yang arah anginnya dari barak-barak narkoba yang marak dan leluasa beroperasi di Binjai dan Langkat. Selama duduk sebagai anggota DPRD Sumut, tak kurang dari enam kali Zainuddin mengajukan pemanggilan Kapolda untuk agenda penyelesaian masalah itu. Tetapi karena tidak mendapat tanggapan serius, ia telah melakukan aksi demonstrasi tunggal di depan Markas Poldasu. Belum cukup ditanggapi, ia pun menyurati Polda Metro Jaya untuk izin melakukan aksi tunggal di depan Markas Besar Kepolisian RI di Jakarta. Rupanya surat terakhir ini telah mengundang reaksi dari Mabes, sehingga akhirnya tuntutannya dipenuhi. Barak-barak utama narkoba di Binjai dan Langkat ditutup melalui operasi kepolisian. Tapi Zainuddin yang sangat memahami lapangan, mengetahui bahwa barak-barak itu telah kadung berkembang dan berdiri kembali seperti jamur di berbagai sudut dan pinggiran daerah.

“Keadaannya sudah darurat. Kota ini akan terjerumus menjadi Texas apabila tidak ada perlawanan serius untuk mengatasinya. Saya memberikan perhatian khusus mengenai ini, karena tahu persis bahwa narkoba telah menciptakan dampak kerusakan yang sangat mengkuatirkan. Kriminalitas meningkat, pencurian hasil pertanian demi mendapatkan narkoba telah menurunkan semangat pertanian warga dan menurunkan produktivitas mereka. Anak-anak muda menjadi korban dan kehilangan masa depan. Saya yakin masyarakat sangat merasakan ini, sehingga mereka mengapresiasi perlawanan nyata saya terhadap narkoba ini. Saya akan memasukkannya dalam salah satu program prioritas bersama seluruh perangkat pemerintahan apabila dipercaya memimpin kota ini. Dan saya menyatakan akan memimpin langsung program ini,” kata Pak Uda, kali ini dengan raut yang keras dan mata yang menyala.

Pilkada Kota Binjai akan dilaksanakan dalam beberapa bulan mendatang. Dan hingga hari ini, Zainuddin Purba sebagai salah seorang bakal calonnya, masih tetap memilih bermukim di Tanah Seribu, di sebuah bangunan tak berpagar, dengan beranda terbuka, dimana orang-orang datang dan pergi mengadukan masalahnya. Kadang-kadang tidak mengenal waktu, pagi-pagi buta, ada saja yang berani menggedor pintunya.

“Saya tidak bisa tidur banyak, Bang. Sebab kalau mereka mengetuk pintu rumahku di atas pukul 3 pagi, badanku pasti seketika terlompat bangun. Pastilah mereka susah sekali atau menghadapi masalah yang gawat kalau sampai datang pada jam-jam segitu.” (*)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
3,912FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles