25.6 C
Medan
Saturday, 20 April 2024
spot_imgspot_imgspot_img

Ajarkan Tobat secara Kilat

CATATAN : Wiku Saptanadi

Diskusi sore semalam, seru. Topiknya berat-berat jambu. Bagaimana membuat anak-anak muda, warga kampung, genk motor, kapok tawuran. Berhenti saling lempar, serang dan bikin kerusuhan.

Sebenarnya, diskusinya santai. Via WA. Bedua saja. Tak lebih. Tak seperti orang-orang, yang diskusi via zoom meeting. Lebih banyak melibatkan ide dan buah pikir orang.

Ya kami berdua tok! Saya dan Kasektupa Lemdiklat Polri BJP Mardiaz Kusin Dwihananto. Beliau di Sukabumi, saya di Medan. Topik diskusinya dipilih secara spontan (bukan spontan acaranya Komeng ya).

Dibilang spontan, karena ada berita seremoni Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP Dayan. Polisi berpangkat melati dua itu menyerahkan bantuan alat salat. Diberikan ke beberapa pemuda.

Pemuda-pemuda itu ; pelaku berantem massal. Ngetren disebut tawuran. Mereka itu dilibatkan dalam kegiatan pesantren kilat. Selama 3 hari digembleng agar bertobat.

Dibimbing oleh seorang ustad, untuk kenal agama dan taat beribadah. Dengan begitu, mereka sadar bahwa berantem itu tak ada manfaatnya.

Malah menyebabkan jatuh korban. Luka ringan, luka parah, meninggal dunia juga ada. Selain itu, bikin warga panik, ketakutan! Menganggu ketertiban dan merusak fasilitas umum pula.

Diantaranya; faktor kepentingan (semisal berebut lahan parkir) dan mencari pengakuan. Alasan terakhir, mencari pengakuan, biasanya berlaku bagi anak pelajar dan remaja tanggung. Juga genk motor. Bukan warga kampung.

Soal tawuran remaja dan genk motor, BJP Mardiaz, fokus mengupasnya. Ternyata, jauh sebelum berantem keroyokan di Belawan pecah lagi, upaya mencegahnya pernah diprakarsai. Sama persis yang dibuat AKBP Dayan, kini.

Yakni ; mengajak pelaku tawuran, remaja nakal dan genk motor ikut pesantren kilat. Kapolsek Sunggal, Kompol Yasir, memulainya pada 2020. Untuk Wilkum Sunggal, Polrestabes Medan.

Baca Juga:   Gubernur Sumut Edy Rahmayadi Akan Gratiskan Uang SPP SMA dan SMK Negeri

Polres Metro Jakarta Selatan juga. Pernah menerapkannya pada 2017 silam. Konsep dan metodenya sama. Pelaku tawuran, genk motor, remaja nakal, berandalan dan tahanan, diajarkan bertobat. Dalam 3 hari.

Kegiatannya macam-macam. Menjiplak Polrestro Jaksel semasa itu, para peserta pesantren kilat dilatih untuk berdemo. Di malam buta.

Demonya bukan demo ke kantor pemerintahan, DPR dan penegak hukum. Melainkan, demo kepada Allah SWT ; lewat tahajud. Tujuannya meminta keberkahan dan kemuliaan. Agar terlepas dari marabahaya.
Demonya tak pakai gas air mata. Tapi meneteskan air mata. Sebagai pertanda taubatan nasuha. Menyesali perbuatan dosa selama ini.

Selain demo, mereka juga diajarkan beragam adab. Mulai adab salat, wudhu, makan dan minum, bersilaturahmi, istinjak, tidur, puasa dan seluruh amalan nabi Muhammad SAW.

Mereka juga diajarkan kiat terhindar faham radikalisme. Diajak memahami agama dan memaknai Bhineka Tunggal Ika secara utuh.

Ini ternyata ampuh membuat para pelaku kegaduhan insyaf. Betul-betul sadar akan perbuatannya dan takut akan azab. (Penulis merupakan Pimpinan Redaksi Medan Cyber)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
3,912FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles