Oleh : Zulkifli, Jurnalis Senior
Untuk kesekian kalinya saya membawa sang buah hati roadshow. Setelah akhir tahun kemarin saya membawanya keliling Jakarta dan Sumatera, hari ini saya membawanya keliling Kabupaten/Kota. Pematangsiantar tujuan utama. Satu malam kami menginap di Hotel Sapadia, sebelum hari ini menemui sejumlah kolega. Kapolres Siantar dan Kapolres Simalungun, dua diantaranya.
Wartawan tak boleh mati. Wartawan harus tetap ada, sesulit apapun situasi saat ini. Karenanya, saya ingin karier saya di wartawan kelak dilanjutkan oleh si lajang. Untuk itu, saya mendidiknya sejak dini. Baik secara teori dan praktik. Seperti apa wartawan bekerja, seperti apa wartawan bersikap. Perlahan, ilmu itu saya telurkan.
Awalnya, dia tak menyadarinya kalau dia dalam proses belajar. Yang dia pahami, saya membawanya untuk berkenalan dengan para ‘pembesar’. Baik di pemerintahan atau pun di Kepolisian. Saya sudah mengenalkannya dengan sejumlah Kapolsek hingga para Kapolda. Dia sudah berfoto dengan perwira polisi mulai dari balok dua, hingga bintang dua.
Apa yang saya lakukan, tentu membuatnya senang. Bisa berkenalan dengan orang-orang hebat. Awalnya, dia tak sadar bahwa apa yang dirasakannya adalah proses belajar. Saya baru menjelaskannya, usai dia terheran-heran ketika saya dengan sejumlah kolega tadi saling memaksa untuk sebuah amplop.
Ya, wartawan dan amplop adalah sesuatu yang nyaris tak terpisahkan kini. Terlebih di Sumut, yang nyaris tak ada lagi media mampu menggaji wartawannya sesuai ketentuan dan peraturan Disnaker. Tak ada lagi gaji wartawan yang sesuai UMP (upah minimum provinsi). Jadilah banyak wartawan kini, jangankan menolak amplop, malah mengejar-mengejar pejabat hanya sekedar mendapatkan amplop. Miris memang. Tapi itulah fakta.
Berhenti jadi wartawan? Bagi saya tentu tidak. Wartawan bagi saya, ibaratkan candu. Saya tak akan meninggalkan dunia ini. Bahkan, saya ingin sang anak pun meneruskannya. Karena itulah, dia terus saya latih agar menjadi wartawan sebaik-baiknya wartawan. Minimal teori. Setidaknya, sebagai gurunya, dia sudah beberapa kali melihat ayahnya menolak amplop dari para pejabat yang kami temui. Seperti hari ini.
Terimakasih saya kepada Kapolres Simalungun AKBP Nicolas Dedi Arifianto, yang sangat menghargai kehadiran saya di sana. Bukan bermaksud tak menghargai persahabatan, tapi kali ini kedatangan saya dalam sebuah misi pendidikan. Mendidik sang penerus, yang saya harap kelak bisa menjadi wartawan yang membanggakan. Semoga kelak, Kapolres yang baik hati ini berkarier moncer.
Begitu juga dengan Kapolres Pematangsiantar AKBP Boy Siregar. Bagi saya anda luar biasa. Ketemu anggota brimob serasa ketemu standup komedi. Selalu ada humor dalam setiap percakapan. Anda layak menjadi pemimpin Polri masa depan, dengan gaya humble, humanis dan humoris. Sukses selalu dalam tugas, jangan pernah berhenti berbuat baik.(*)



