Medancyber.com – Ustadz Adi Hidayat menjawab pertanyaan tentang apa pentingnya berpuasa di Bulan Ramadhan.
Sebagai umat muslim diwajibkan untuk berpuasa ketika datangnya bulan suci Ramadhan selama satu bulan penuh, sehingga Ustadz Adi Hidayat memberikan ceramah tentang pentingnya berpuasa.
Allah menurunkan perintah puasa di hari Senin di Bulan Sya’ban pada tahun kedua Hijrah dengan turunnya surat kedua Al-Baqarah 183 agar ibadah puasa ditunaikan di Bulan Ramadhan berikut adalah arti dari Surat Al-Baqarah ayat 183:
“Hai semua orang yang beriman tanpa kecuali, mulai saat ini diwajibkan atas kalian menunaikan ibadah siam di Bulan Ramadhan nanti sebagaimana generasi terdahulu juga mendapati kewajiban itu, puasa ditujukan dengan harapan kalian semua dapat meningkatkan taqwa.”
Al-Qur’an menjawab dengan puasa Ramadhan dapat meningkatkan ketaqwaan, kemudian apa pentingnya taqwa, sehingga harus dilatih dalam Ramadhan yang di desain untuk melatih taqwa.

Taqwa adalah akumulasi dari karakter moral kumpulan-kumpulan sifat baik yang hadir dalam jiwa setiap manusia dan dari pancaran moral ini yang akan mengeluarkan sifat-sifat yang dieksekusi oleh bagian tubuh menjadi sikap yang mulia dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mata akan melihat hal-hal yang baik atau mulia tergantung pada bagaimana kondisi jiwa memberikan instruksi kepada mata untuk menatap.
Lisan akan bertutur dengan mulia juga bergantung pada jiwa yang memberikan petunjuk kepada lisan untuk bertutur kata.
Demikian dengan anggota tubuh yang lain seperti telinga untuk mendengar sampai ujung kaki untuk melangkah.
Pusat instruksi, atau pusat yang memberikan sinyal dan perintah kepada bagian tubuh untuk bersikap, bertindak dan berperilaku yang baik itulah yang disebut taqwa.
Seperti yang dimaksud di dalam Al-Qur’an surat ke 91 Assyamshi ayat 7-10, dalam taqwa terkumpul semua sifat-sifat baik seperti kejujuran, kesabaran, rendah hati dan seluruh sifat baik yang berkumpul di dalamnya.
Sedangkan fujur adalah katalisnya yang didesain untuk mempercepat sehingga sifat-sifat mulia tersebut bisa cepat keluar dan bentuknya adalah lawan langsung dari sifat taqwa.
Jika dalam taqwa ada kejujuran maka di fujur ada dusta, jika ada kesabaran maka di fujur ada amarah begitu pula jika ada rendah hati maka di fujur ada kesombongan.
Allah menciptakan amarah bukan ingin menjadikan manusia pemarah tetapi untuk mempercepat melatih kesabaran agar muncul ke permukaan, bagaimana ditemukan sabar kalau tidak ditemukan amarah.
Sifat-sifat negatif tercipta bukan untuk menjadikan manusia memiliki sifat negatif atau berperilaku negatif tetapi lebih menjadi katalis taqwa supaya muncul ke permukaan.
Sehingga taqwa berperan penting dalam kehidupan manusia dimana taqwa membuat manusia memiliki sifat yang baik dalam berperilaku secara individu maupun hubungan sosial sesama manusia.
Seperti hadist nabi yang menyatakan barang siapa yang berpuasa dengan benar maka akan memberikan berpotensi menghadirkan perisai untuk mencegah perilaku dari perbuatan-perbuatan yang negatif dan bersamaan mendorong untuk melakukan perbuatan yang positif. (Rsi/Mc)



