25 C
Medan
Thursday, 17 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

The Tatareda Power

Penulis: Wiku Sapta, Pemred Medancyber

Medancyber.com – Saya belum pernah bertatap muka langsung dengannya. Apalagi ngobrol. Baik secara kedinasan ataupun santai. 

Papasan di jalan atau sebuah acara pun, praktis tak pernah. Maklum, belakangan saya kurang mobile mengikuti pers rilis dan kegiatan kepolisian lainnya. 

Entah suatu saat nanti diizinkan bertemu; wallahualam. #ngarep.com. Meski demikian, saya tetap kepo mengikuti jejak digital keberhasilan dan giat-giatnya di media online.

Dulu sekali, semasa Direktur Lalu Lintas Poldasu, sebelum KBP Valentino Alfa Tatareda jadi Kapolrestabes Medan, kami ada beberapa kali berkomunikasi. Lewat aplikasi pesan instan; Whatsapp.

Kesan sementara saya, KBP Tatareda asik. Orangnya sepintas sangat ramah. Memanggil saya dengan, Pak! Eheheee. 
Padahal dari segi usia (entah muka/wajah) pastilah beliau lebih berumur. Terpaut beberapa tahun saja. Beliau sepantaran Waka Polda Sumut BJP Dadang Hartanto.

Keduanya nyaris sama. Ramah, ganteng, agak pendiam, dan tetap asik diajak ngobrol. Karakter alumni Akabri 1994; contohnya BJP Dadang Hartanto dan KBP Irwan Anwar (mantan Dirkrimum Poldasu). Seperti kata saya tadi, itu kesan sementara saya ke KBP Tatareda.
Kental sekali ketimurannya.

Valentino Tatareda bermuasal dari sebuah keluarga di  negeri yang menjunjung tinggi adab. Tondano, Sulawesi Utara. Bagian dari masyarakat Nusa Utara (kepulauan Sangihe, Talaud dan Sitaro), ujung utara propinsi tersebut. 
Penduduknya dikenal sebagai masyarakat pesisir yang ramah dan santun. Juga pemberani dan jantan.

Baca Juga:  Tindaklanjut Penahanan 3 Hakim PN Surabaya Kasus Ronald Tannur, Ketiga Tersangka Dipindah ke Jakarta

Zaman dahulu, mayoritas masyarakat menggantungkan hidup dari melaut. Pecinta bahari. Merupakan salah satu dari penduduk asli yang menghuni rangkaian kepulauan antara Sulawesi Utara dan Mindanao, Filipina.

D. Brilman, dalam bukunya De Zending op de Sangir en Talaud eilanden (1938), mengatakan penduduk Sangihe dan Talaud termasuk ke dalam bangsa Indonesia dengan induk bangsa Melayu Polinesia. Asal perpindahan mereka adalah dari utara (Mindanau), dan yang lain berasal dari Ternate.

Saya berupaya mencari tahu, karena terus terang sangat penasaran dengan nama belakang Kapolrestabes Medan tersebut. Dan saya berhasil. Google menjadi literasi ‘sakti’ menghapus rasa penasaran itu.

Warga Sangihe dan Talaud, juga memiliki marga. Ada ribuan jumlahnya. Satu diantaranya Tatareda.

KBP Tatareda, resmi Kapolrestabes Medan berdasarkan Surat Telegram Kapolri nomor ST/165-165/I/KEP./2022 tanggal 24 Januari 2022. Lalu pada 8 Februari Kapolda IJP Panca Putra Simanjuntak menyerahkan jabatan KBP Riko Sunarko itu kepada KBP Tatareda.

Upacara sertijab dimasa pandemi itu tak diikuti tradisi kenal pamit yang biasanya dilangsungkan malam hari. Di sebuah gedung ataupun hotel. Seperti lazimnya prapandemi, tradisi kenal pamit petinggi Polri di Medan dan Sumut, kadang diselingi acara mengulosi. Baik kepada petinggi lama maupun baru.

Baca Juga:  Polrestabes Segera Periksa 2 Anggota DPRD Medan Terlapor Penganiaya di Lokasi Hiburan Malam

Ulos disematkan sebagai pertanda ikatan kasih sayang. Dalam filsafat Batak ada istilah “ijuk pengihot ni hodong” (ijuk pengikat pelepah di bagian batang) dan untuk Ulos pengikat kasih sayang antar sesama.

Setiap Ulos mempunyai keadaan, sifat, fungsi maupun hubungan dengan hal tertentu. Ada 3 unsur yang paling mendasar pada kehidupan manusia yaitu nafas, darah dan panas.

Kepercayaan orang Batak apabila Tondi perlu diulosi, maka kaum lelaki yang berjiwa keras niscaya mempunyai sifat kepahlawanan dan kejantanan.

Sifat kepahlawan, kejantanan dan  keramahtamahan pada diri mantan Kapolsek Limapuluh itu dilihat oleh Syekh Ali Akbar Marbun. Tak pelak, di momen HUT Buya Marbun ke 80, beberapa hari lalu, KBP Tatareda dianugerahi  ulos. Padahal seyogianya, ulos dianugerahkan dalam sebuah pesta adat.
 
Ulos yang disematkan Buya Marbun, amat besar maknanya. Bukan sembarang memberi. Ulos itu pertanda pengikat pengaruh KBP Tatareda. Agar semangatnya tak luntur memberantas tindak kriminal dan menciptakan rasa aman bagi warga Medan.

Baca Juga:  Batalyon B Respon Cepat Evakuasi dan Pengamanan Jalur Longsor di Kecamatan Lumban Julu

Disentil 

Sebelum gencar membasmi aksi kejahatan dan premanisme, KBP Tatareda pernah disentil menantu Presiden RI, M Bobby Afif Nasution. Walikota Medan itu sempat mengeluhkan sulitnya berkordinasi dengan polisi menertibkan aksi-aksi premanisme  jalanan. 

Bobby mendambakan sebelum lebaran dan seterusnya aksi premanisme lenyap. 

Sentilan itu dijadikan Tatareda bak vaksin. Penambah imun untuk memerangi aksi kriminalitas. Bersama jajarannya, para preman diburu. Ratusan diamankan. Puluhan dijadikan tersangka. 

135 orang diamankan. Itu berlangsung hanya selama tiga hari, sejak 22 hingga 24 April 2022.

Selain itu, aksi genk motor remaja pun mulai dipersempit. Ditertibkan dengan cara membentuk ‘genk motor’ tandingan. Bukan genk motor kebanyakan. Mereka adalah para polisi yang mengendarai sepeda motor King. Aksi mereka sering viral disomed.

Para polisi berpakaian preman itu dikerahkan menyisir titik-titik rawan aksi teror begal, jambret, rampok, curas dan curat. Bahkan genk motor remaja serta kampung-kampung rentan narkoba.

Program ini salah satu kerja Tatareda. Untuk menciptakan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam beraktivitas di perkotaan. Selain kerja-kerja lain semisal mendampingi Bobby Nasution di setiap even, laksana tugas KBP Riko Surnako semasa menjabat Kapolrestabes Medan. (*)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
3,912FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles