25 C
Medan
Wednesday, 16 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Daya Beli Petani di Sumut Menurun

Medancyber.com – Berdasarkan rilis data BPS Sumut, nilai tukar petani (NTP) di wilayah Sumatera Utara mengalami penurunan. Di bulan Mei 2022 NTP SUMUT di angka 116.40. Padahal di bulan April 2022 angkanya sempat menyentuh 130.38. Penurunan NTP tersebut jelas menunjukan bahwa ada penurunan daya beli petani di wilayah Sumut.

“Namun, penurunan daya beli petani tersebut justru diikuti dengan peningkatan pengeluaran petani yang belakangan mengalami kenaikan,” ucap ekonom Sumut Gunawan Benjamin, Jumat (3/6/2022).

Data BPS Sumut menunjukan bahwa di bulan Mei 2022, indeks harga yang harus dibayar oleh petani itu mengalami kenaikan 0.48% menjadi 110.72 di bulan Mei 2022. Artinya NTP benar benar menunjukan adanya indikasi kuat bahwa pendapatan petani menurun, dan diperburuk dengan pengeluaran petani Sumut yang justru mengalami kenaikan.

Baca Juga:  Terima TKDD, Bobby Janji Akan Percepat Pembangunan

“Jelas terlihat petani Sumut harus merogoh uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, ditambah lagi dengan kenaikan biaya untuk menanam tanamannya. Bahkan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) naik 0.68%. Kenaikannya lebih tinggi dari indeks harga yang harus di bayar oleh petani,” tuturnya.

Kondisi ini, jelas dia, berarti petani harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk membeli bibit, pupuk maupun obat-obatan. Kenaikan harga pupuk, pestisida belakangan ini membuat daya beli petani kian tertekan. Dan semua terlihat dalam NTP Sumut. Jika di kelompokan dengan mengacu kepada sektor tanaman tertentu.

Maka petani di sektor tanaman hortikultura ini yang paling menderita. Karena NTP nya justru di bawah 100 yakni 92.56. Dan dibulan Mei indeks harga yang harus dibayar petani satur-sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat justru naik 0.43%. Sangat terpukul daya belinya, karena daya belinya terpuruk (dibawah 100) ditambah lagi pengeluarannya bertambah besar.

Baca Juga:  Firli Bahuri Berpeluang Ditahan Kamis Ini

Selanjutnya adalah petani tanaman pangan (padi, palawija). Sekalipun indeks yang di terima di atas 100. Namun indeks yang harus dibayar juga di atas 100. Bahkan NTP nya hanya 95.73. Artinya pendapatan petani tanaman pangan ini tergerus oleh pengeluaran yang lebih besar. Jadi daya beli petaninya masih lebih rendah dibandingkan tahun 2018 silam.

Hanya petani perkebunan yang masih menikmati daya beli yang mumpuni. Meksipun turun tajam di bulan Mei 2022 sebesar 18.49%, namun NTP nya ada di level 139,39. Terlihat jelas kebijakan menutup ekspor produk CPO lantas menekan daya beli petani perkebunan di Sumut.

Baca Juga:  Honda Luncurkan Supersport New CBR250RR Berkarakter Big Bike di Sumut

“Penurunan NTP secara keseluruhan di bulan Mei 2022 jangan di biarkan. Ada dampak serius dari penuruanan NTP tersebut. Yakni inflasi dari tanaman tertentu sulit untuk dikendalikan. Sebagai contoh, petani cabai yang terbebani dengan kenaikan harga pupuk serta obat obatan belakangan ini kerap membuat petani dengan mudah mengganti tanamannya,” tutur dia.

Saat terjadi penurunan harga yang sangat tajam. Petani langsung membabat tanamannya dan mengganti dengan tanaman yang baru. Alhasil harga cabai langsung naik seperti yang terjadi saat ini. Hal ini dikarenakan petani tidak mau menanggung beban yang berlebihan karena semua pengeluaran petani belakangan ini naik tajam.(muc/mc)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
3,912FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles