Medancyber.com – Anda sudah tahulah; bahwa tempat-tempat hiburan malam di Medan, merupakan pasar yang sangat potensial. Potensial memasarkan segala jenis minuman, prostitusi dan narkoba.
Anda bisa tahu jika berkunjung ke sana; ke tempat hiburan malam itu. Soal rumor tersedianya narkoba di tempat-tempat tersebut, coba saja pesan lewat pelayan. Jika tidak diberi, maka coba lagi esok harinya, dua sampai tiga kali. Suatu waktu, pasti diberi.
Tempat hiburan malam, merupakan tempat paling nyaman mendapatkan segala kenikmatan duniawi. Mulai dari menyediakan minuman, musik dan narkoba, bahkan wanita. Hmmm terdengar mengasikkan bukan?
Zoom/Alectra Karaoke di Komplek CBD Polonia, satu contoh tempat yang menawarkan kenikmatan tersebut. Tempat-tempat lain; Classical, Dragon, Grand Station, Scorpio, D Blues dan masih banyak lagi, pun sama. Berlomba menawarkan kesenangan duniawi itu.
Alexander, manejer eks Alectra, belum lama ini, pernah didapati polisi mengantongi 10 butir pil ekstasy. Dia diamankan dari dalam sebuah KTV. Pun Alex dinyatakan positif narkotika. Dengan kandungan zat amphetamine atau ekstasy dan jenis sabu alias benzo.
Tahun-tahun sebelum pandemi datang, polisi rajin merazia tempat hiburan malam. Begitupun pengunjung yang baru saja keluar dari tempat karaoke dan diskotik. Semua disikat dan diamankan. Dibawa ke kantor. Tapi tak tahu pasti apakah kasusnya berlanjut (naik ke jaksa dan persidangan) atau tidak.
Mengapa KTV, Diskotik dan Bar dipilih menjadi tempat paling potensial memasarkan narkoba? Kata kuncinya, karena KTV, Diskotek dan Bar merupakan tempat mencari hiburan.
Tempat berhibur yang disediakan secara legal. Di dalamnya tersedia segala jenis minuman dan musik.
Agar fasilitas kebahagiaan di tempat hiburan lebih sempurna, pengelola tak segan-segan menyediakan wanita-wanita seksi. Mereka bertugas menemani para tamu yang datang.
Kepuasan pengunjung ditentukan oleh pelayanan wanita pemandu lagu (LC; Ladies Companion).
Semakin puas tamu, maka semakin banyak uang tips yang mereka terima. Itulah modal hidup, karena jika hanya berharap gaji, mereka akan hidup menderita di kota.
“Kalau banjir bokingan, syukur kali, Bang. Tapi kita harus pintar-pintar membuat tamu puas dan bahagia, biar uangnya mengalir terus ke kita,” ucap Woly, nama samaran seorang LC di Medan, sambil tertawa genit.
Setelah minuman dan wanita, narkoba adalah penyempurna. Tak nikmat rasanya mendengar nada-nada breakbeat tanpa ekstasy. Jika tiga instrumen itu sudah tersedia, alamat pengunjung bakalan menyemut ke tempat-tempat hiburan tersebut.
Beberapa pengunjung yang sempat diwawancara mengaku, narkoba mereka beli dari jaringan pengedar di luar tempat hiburan. Pengelola tempat hiburan menyebut mereka ini sebagai ‘tikus’; binatang yang tidak diharapkan ada.
Ada juga yang memesan secara online, bahkan dari luar negeri. “Kualitas inexnya lebih dahsyat dari produk dalam negeri, bang. Produk dari sini produk UKM nggak bagus. Tak ada reaksinya!”aku Ajie, penikmat musik breakbeat, sambil tertawa.
Memesan narkoba lewat sesama pengunjung pun bisa. Pengunjung yang masuk dalam KTV, diskotek maupun bar, ternyata sudah mengantongi narkoba. Lewat pengunjung inilah narkoba-narkoba itu beredar bebas. Mereka ini tidak terkait dengan menejemen tempat hiburan.
Selain narkoba yang dibawa lari luar, pengunjung juga bisa memesan dari dalam tempat hiburan. Melalui oknum menejemen dan karyawan.
Biasanya pelayan yang dimanfaatkan sebagai marketing untuk memasarkan narkoba kepada pengunjung. Karena pelayan yang langsung berinteraksi dengan tamu.
Terakhir, narkoba yang dipasarkan langsung oleh menejemen tempat hiburan. Selain menyediakan jasa pelayanan legal, secara samar-samar menejemen pun menjalankan bisnis ilegal. Yakni bisnis narkoba dan prostitusi. Namun hanya diberikan kepada tamu-tamu yang dipercaya saja (member). Ini adanya di Classical Karaoke, Bar dan Resto. Tamu reguler jangan bermimpi mendapatkan layanan tersebut.(red/bersambung)



