24 C
Medan
Thursday, 17 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Anugerah Akhir Tahun Buat Eks Wakapolda

Oleh: Wiku Sapta

Medancyber.com – Barangkali ini kali kedua, anugerah sekaligus hadiah terindah diperoleh H Dadang Hartanto, jelang tutup tahun 2022. Di telegram rahasia (TR) Polri tertanggal 23 Desember 2022 lalu, namanya dipromosi menjadi Widyaiswara Utama Sespim Lemdiklat Polri. 

Sebelumnya, Dadang menjabat Wakil Kepala Kepolisian Sumatera Utara. Ini yang kedua kalinya. 

Kali pertama, jelang tutup tahun  2017 lalu. TR dari Mabes Polri menunjuknya sebagai Kapolrestabes Medan, usai dikomandoi Sandy Nugraha. Dianugerahi jabatan mentereng sekaligus dibebani tanggung jawab yang amat besar.

Saya punya cerita membanggakan diinjury time 2017 lalu itu. Terkait anugerah jabatan yang diperoleh BJP Dadang Hartanto. Seperti apa ceritanya?

Ini cerita 5 tahun silam, 26 Desember 2017 itu. Awal mula Brigjend Polisi H Dadang Hartanto, menginjakkan kaki di Tanah Deli. Embel-embel pangkatnya ketika itu masih Kombes (Komisaris Besar).

Mula kenal difasilitasi kecanggihan aplikasi pesan kilat; Whatsapp. Chat berisi ucapan tahniyah  dan sukses karena menjabat sebagai orang nomor 1 di kepolisian Kota Medan, menjadi pembuka per-chat-an.

Keesokan hari, 26 Desember 2017, saya memberanikan diri menyapa. Niatnya sekadar say hello. 

 “Saya mau mantau PAM Lalin ke Brastagi. Mau ikut nggak? Kalau mau, saya jemput. Abang dimana?” tanyanya usai menyahuti sapaan saya.

Saya jawab sekenanya. “Di kantor, bang.” Eeeh hitungan menit,  H  Dadang membalas. “Wa kan saja alamat kantor!”

Nyaris tak percaya, saya pun mengirim  alamat kantor di Jalan Paduan Tenaga nomor 12 itu. Notifikasi WA saya menyala lagi. “Saya sudah sampai,” WA beliau.

Saya bergegas turun. Mobil Extrail kelir hitam sudah parkir depan pagar. Begitu mendekat, seorang perwira menengah berseragam lengkap keluar dari mobil.

Baca Juga:  Tumor Tulang Tak Lagi Harus Amputasi, Bisa Ditangani di RSUP Haji Adam Malik

“Yuk kita langsung jalan memantau PAM dan Lalin tahun baru. Ini tugas perdana saya loh,” ucapnya sambil menyalami saya.

Agak kaget dan canggung serta  mencengangkan sikap polisi satu ini. Karena bisa dibayangkan betapa bangganya saya, mendapat kesempatan menemani seorang kepala polisi (ketika itu) selama seharian. Kesempatan yang langka.

Tapi begitulah H Dadang. Meski berpangkat tinggi dan punya jabatan, dia mengajak saya mondar mandir memonitor kondisi keamanan dan lalulintas jelang tahun baruan di Medan dan sekitarnya. 

“Kita pulang agak malam, nggak apa-apa kan bang?” tanyanya.

Saya menggeleng. Maklum masih takjub dengan caranya memperlakukan saya. Seolah sudah berteman lama, padahal baru kali pertama copy darat.

Mobil tancap gas. Saya duduk di belakang, bersebelahan dengannya. Di depan duduk seorang driver dan Erdi, salah seorang ajudan. Kemana-mana, Erdi menenteng kamera.

“Kita ke rumah teman seangkatan saya di akademi kepolisian dulu ya, di daerah Helvetia,” kata mantan Kapolres Subang dan Cianjur itu.

Saya manut saja. Di perjalanan, Dadang mengaku tak canggung dengan kondisi Kota Medan. Maklum sebelum jadi kepala polisi di sini, dia mengaku sering wara wiri Medan mendampingi mantan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti. 

Sesampai di kawasan Helvetia, laju mobil berhenti. Beberapa polisi berseragam, terlihat berjaga-jaga menyambut kedatangannya.

Mereka adalah Kapolsek Helvetia dan beberapa personil polisi lainnya. Kami pun turun dan berjalan menyusuri gang sempit. 

“Teman seangkatan saya tinggalnya disini,” katanya sambil berjalan pelan.

Baca Juga:  Detasemen Gegana Sumut Berikan Materi Pengenalan Fungsi Jibom kepada Bintara Angkatan 46

Hampir 50 an meter berjalan masuk ke dalam gang, Dadang berhenti. Menemui warga yang kebetulan berdiri di teras rumah dan menyalaminya. Begitu seterusnya hingga tiba di rumah rekannya seakademi.

Saya yakin, warga bingung akan sosok polisi tersebut. Karena baru kali itu, warga disana disapa dan disalami polisi. Kami pun akhirnya sampai. Setelah berucap permisi, pagar rumah dibuka. AKBP Situmeang dan keluarga menyambut. 

“Sebuah kebanggaan besar bagi kami. Jarang-jarang bisa dikunjungi Kapolrestabes Medan pas natalan begini,”ucap Situmeang, senang. Teman dekat Dadang ini mengaku berdinas di Mabes Polri. Karena libur, dia pun memilih pulang kampung. 

Suasana reuni langsung pecah. Seluruh anggota keluarga keluar menyalami dan memeluk hangat H Dadang. Mereka  bangga dan tak menyangka dikunjungi pembesar di kepolisian Kota Medan itu.

Kedua insan Bhayangkara itu selanjutnya larut dengan melihat foto-foto kenangan selama mereka menjalani pendidikan di kepolisian dari  1991 hingga 1994. “Foto saya yang mana ya?”tanya Dadang sambil terus mengamati foto kenangan yang digeletakkan di sofa. Dijawab pak Situmeang dengan menunjuk seseorang di foto tersebut. Mereka pun tertawa. 

Itu sekilas ceritanya. Bagi saya, memang langka ditemukan perwira polisi berpangkat mentereng mau mendatangi warga dan menyapa. Kecuali untuk momen pencitraan dan lain sebagainya. Tapi ini beda. Dadang rela mendekat ke warga, tanpa embel-embel riya akan dinilai polisi baik dan ramah. 

Terbukti, selang 5 tahun berjalan, BJP H Dadang semakin tersohor dengan program memakmurkan masjid, terutama di waktu Subuh. Momen tersebut digunakannya untuk mengangkat kembali citra Polri melalui penguatan keimanan. Dia berinisiatif sendiri. Pergi sendiri berkeliling dari satu masjid ke masjid lain. 

Baca Juga:  Puluhan Proyek Jalan dan Jembatan di Sumut Diduga Dikorupsi, Mulyono: Temuan Sudah Ditindaklanjuti

Dia seolah ingin merubah orientasi sosok pemimpin saat ini. Semula pemimpin dipandang sebagai “raja”. Menerima banyak kemudahan dan kenyamanan (fasilitas). Dikawal ketat bawahan. Kemana-mana.

Kini sosok pemimpin sudah harus bergeser maknanya. Pemimpin adalah pelayan publik. Begitulah seharusnya. Kehadiran pemimpin sudah bukan lagi hanya semata-mata untuk pemenuhan kewajiban mengisi jabatan struktural. 

Namun sosok pemimpin harus bisa memberikan pelayanan yang baik bagi setiap orang yang dipimpinnya. Bahkan kepada masyarakat luas.

Pemimpin adalah pelayan publik sebenarnya sudah cukup lama dikenalkan oleh Greenleaf (2002). Greenleaf berpendapat bahwa kepemimpinan pelayan /servant leadership sangat diperlukan penerapannya di suatu tempat kerja. Kepemimpinan pelayan tersebut merupakan suatu model kepemimpinan yang memproritaskan pelayanan kepada pihak lain, baik kepada pihak karyawan, pelanggan atau masyarakat sekitar. Selain itu Greenleaf juga mempunyai pandangan bahwa hal pertama kali yang perlu dilakukan oleh seorang pemimpin besar adalah melayani orang lain dengan tujuan motivasi yang ada pada dirinya sendiri.

Pemimpin adalah pelayan publik yang memberikan pelayanan kepada orang lain, termasuk bawahan. Ini akan semakin menumbuhkan keterikatan yang kuat antara pimpinan, juga bawahan. 

Keterikatan itu akan memberikan dampak positif dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab.  Karena memiliki satu pemahaman yang sama dalam memberikan layanan. Tentunya akan memudahkan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Publik membutuhkan pemimpin pelayan. Percepatan perbaikan kualitas pelayanan dimulai dari komitmen pemimpin. Tanpa adanya komitmen pemimpin, tak mungkin pelayanan publik ke masyarakat dapat berkualitas. (**)

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
3,912FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles